Tumpangan ke Masa Lalu
Larinya sebuah kereta perkasa abu-abu
Dengan segera menerobos pintu
Menuju saat riuh tawa masih terpadu
Pergi untuk merantau
Ke tempat bertumpahnya senda gurau
Dimana semua adalah seuntai lagu
Karena kita masih satu
Cuma sekejap jauhnya masa lampau
Tak berkarat, abadinya berkilau
Tidak akan redup, juga tak berdebu
Karena nyalanya kudekap selalu, dilindungi dengan jiwaku
Bagaikan manusia pada napas
Terlalu mustahil dilepas
Walau kelak mungkin bisa bebas
Tapi tak pernah ingin lekas
Sekarang sudah kembali senja
Meskipun ditukar dengan ribuan air mata,
Telah berhasil katakan, "selamat tinggal, kau sungguh berharga."
Sadari hidup kini belum tentu lebih berwarna
untuk kotak musik indah tak terlupa penuh kenangan
dari sang raga berhati, yang merindu tapi berjalan
tentang sepotong kecil dari garis waktu yang selamanya
tertulis dengan tak lebih daripada puing rasa
-eKirtiadi-
*sigh* another self poem in the middle of the nite...



posted by siduahuruf @ 11:26 a. m.