Menikmati suatu hari yang cerah
Berisikan decak ria dan lincah bergairah
Kaki kecilku melangkah pasti, jauh, jauh membawa badanku
Berjalan tegak karena aku setinggi pohon2 cemara di perbukitan, seakan mengangankan langit
Angin berbau rerumputan kuhirup mengisi seluruh rongga dada dan seakan takkan pernah kuhembuskan.
Sahabatku si matahari mengedipkan matanya padaku, menyapaku selamat pagi lalu berjalan bersamaku
Kutersenyum kembali padanya, beterimakasih untuk bersedia muncul dari tempat tinggalnya di balik bumi
Segumpal awan putih kecil pun berusaha menarik perhatianku
Kutolehkan kepalaku padanya, dan kubisikkan selamat pagi pula padanya.
Ingin dengan tanganku kubelainya dan kudekap dirinya yang seperti kapas.
Awan putih kecil itu lalu tersenyum dan melayang tanpa berat di singsananya di atas sana
Memanjakan kulit dengan hangatnya udara
Menghibur jiwa dengan pundak tanpa beban
Tiada berkekurangan. Hadiah dari alam.
Indahnya penglihatan, juga sebuah karunia.
Hal cantik di dunia yang kurang dihormati.
Dikira sudah sepantasnya, tapi siapakah kita?
Lupa pada rupa dan mengira berjuang dan pantas mendapat semua
Padahal hanyalah selalu menerima
Melirik pohon2 tak berdaun yang menunggu kembali mempesona
Merindukan selendang memukaunya dedaunan hijau
Kukatakan padanya "Jangan menunduk, bersabarlah sedikit lagi"
Kita.
Selalu menerima.
Lalu "terima kasih".
~ For a beautiful day in spring, when the snow is there no more.



posted by siduahuruf @ 1:01 p. m.