<bgsound src="">

viernes, marzo 21, 2008

Mencicipi Sepotong Alam Raya

Pernahkah terpikir bahwa setiap hal yang kaujumpai dalam hidupmu patut diberi hak akan setiap serpihan kecil yang kau bawa bersama setiap helaan nafasmu? Yang hidup maupun mati.
Dan setiap kali pandanganmu jadi makin lebar, makin mengerti akan sesuatu, lalu makin merasa kau tidak pernah tau apa-apa?

Menghormati, memberi kesempatan, tanpa sadar mengharapkan kembali.
Berusaha mengerti apa yang lain cintai, dan belajar mencintai apa yang lain cintai.
Baru, megah dan menggugah.
Mendengar apa yang lebih luas daripada yang pernah kau dengar, yang asing.
Akhirnya bisa mengintip yang selalu transparan.
Untaian tutur sapa sanggup membuatmu bergeser ke beranda lain, untuk sesaat yang berbeda adalah cantik.
Lalu ternyata horizon lebih jauh tak tergapai dan lebih kabur daripada garis semata antara langit dan lautan.
Sempitnya kepala dibatasi kisi, walaupun sebenarnya cerdik.
Memperoleh, tapi menjadi semakin terasa bercela.
Angkasa yang tak berbatas; Aku di telapak kakinya sekecil butiran padi yang tak akan pernah menguning.
Diri berupa raga hunian jiwa saja, sedang tanah rumah manusia berbilik tak terbilang.
Mengumpulkan sedikit yang mengesankan untuk dijinjing melampaui kikisan waktu.
Dipeluk erat jadi ajaran.

Sepanjang mata masih bisa berkedip, bibir masih bisa berbisik dan angan masih bisa terbang, takkan pernah berhenti menambah bobot budi, asa, akal dan rasa. Menjadi semakin luhur, lebih sempurna daripada kemarin lusa, disangga dengan tangan-tangan lain.

Untuk dia, tempat bercermin muka dan pribadi meski hanya untuk sejenak, pemberi kesempatan atas terbukanya kedua daun telinga, kuucapkan terima kasih. Kaupun walau singkat, berhak atas sebuah serpihan kecil tak ternilai.

-eKirtiadi-
21 Maret 2008